Ternyata, Oleh Mahasiswa Ini Gas Berbahaya Bisa Diolah Menjadi Gas Sintetis

Gas metana yang merupakan kategori gas berbahaya ternyata berhasil diolah menjadi syn-gas atau gas sintetis. Gas sintetis ini merupakan gas yang aman karena bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, pemanas, pelumas, bahan bakar, dan semacamnya.  Perubahan konversi gas itu berhasil dengan menggunakan teknologi membran. Mahasiswa yang berperan penting atas kesuksesan tersebut adalah Ahyudia Malisa Ilham, Naimatul Khoiroh, dan Stella Jovita, ketiga mahasiswa ini berasal dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Menurut mereka, keberadaan gas metana ini sangat melimpah dan jarang dimanfaatkan oleh manusia. Wajar jika manusia jarang memanfaatkannya karena sebagian besar dari mereka tidak tahu cara pemanfaatan dan penggunaannnya karena memang harus disesuaikan dengan porsi kebutuhan mereka dalam menggunakan gas. Gas metana sebenarnya mudah ditemui karena berada disekitar kita. Dibawah ini adalah uraian beberapa contoh yang didalamnya terdapat kadungan gas metana.

Gas elpiji yang merupakan kebutuhan memasak ibu-ibu rumah tangga didalamnya terdapat kandungan gas metana. Kotoran manusia dan kotoran hewan juga mengandung gas metana, untuk hewan yang kotorannya mengandung gas metana yaitu sapi, domba, babi, kambing dan unggas. Pada sampah-sampah oraganik yang sudah terutai oleh bakteri juga dapat menimbulkan gas metana. Serta proses pembakaran di sekitar rawa akan menimbulkan sebagian gas metana.

Menurut para mahasiswa ini, gas metana selain dapat ditemui pada kehidupan kita, juga merupakan penyusun utama gas alam yang mencapai 90%. Serta gas metana bisa dihasilkan dari proses pengilangan minyak mentah dan hasil sampling industri pertambangan minyak bumi. Fakta tersebut sudah cukup untuk membuat gas metana dikategorikan sebagai energi terbarukan karena tidak mempunyai cadangan dan sering ditemui.

Harapan dari pemanfaatan lebih dalam lagi terhadap gas metana muncul setelah penemuan para mahasiswa ITS yang berhasil mengubah gas metana menjadi gas sintetis. Pada proses penelitiannya, mereka memanfaatkan metode Oksidasi Parsial Metana (OPM) untuk mengubah metana menjadi syn-gas. Menurut salah satu mahasiswa, metode ini diteliti cukup efektif, karena hanya membutuhkan suhu dan tekanan rendah ketika bereaksi dibandingkan metode lainnya.

Metode OPM ini dapat mengeluarkan energi panas dan mengonsumsi energi yang lebih sedikit dengan membuat metode tersebut kelebihan reaksi serta dinilai memiliki efisiensi yang tinggi. Tentunya metode OPM ini dibantu dengan teknologi membran. Melalui teknologi membran ini, gas metana dapat diubah menjadi gas sintetis yang penuh manfaat, gas sintentis ini berupa hidrogen dan karbon monoksida.

Pada proses perubahan konversi gas metana menjadi gas sintentis, keberadaan teknologi membran dinilai penting karena perlu mengontrol jumlah oksigen yang bereaksi. Tahap pengontrolan ini masuk kedalam monitoring perubahan gas. Maka dengan teknologi membran ini kita bisa lebih mengetahui sejauh mana reaksi oksigen dengan metana yang teroksidasi secara sempurna, dan apakah oksidasi tersebut menghasilkan karbon dioksida, air atau gas sintetis sebagai tujuan utamanya.

Tag: