Tahun 2030 Saatnya Pertamina Menggantikan Energi Migas Dengan Baterai Listrik

Di masa depan, Indonesia patut bernapas lega karena beberapa temuan mengenai energi alternatif yang terbarukan mulai bermunculkan, salah satunya adalah baterai listrik. Walaupun harus menunggu waktu yang cukup lama dari sekarang, itu tidak masalah karena saat ini produksi migas di Indonesia memang masih menjadi hal yang utama bagi masyarakat. Serta memang cadangan migas ini masih cukup banyak untuk digunakan dalam beberapa puluh tahun kedepan.

Hal yang paling penting adalah pengetahuan masyarakat terkait pemanfaatan dan kelebihan baterai listrik ini perlu di publikasikan lebih dini dengan terperinci. Selain itu, waktu panjang tersebut sudah cukup bagi para peneliti untuk bisa lebih menyempurnakan lagi. Adalah PT. Pertamina yang bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) yang berperan penting dalam temuan terbarunya. Mereka telah berhasil memproduksi Lithium Ion Battery (LIB) untuk penggerak motor listrik yang murah dan hemat.

Itu berarti pemanfaatan baterai ini sementara akan diterapkan terlebih dahulu pada kendaraan bermotor karena memang proses pembongkaran dan pemasangannya lebih mudah. Akhir-akhir ini isu kendaraan listrik memang ramai diperbincangkan, khususnya isu pembuatan baterai listrik yang akan menjadi penggerak utama. Tentunya ini menjadi angin segar bagi pengguna kendaraan bermotor, karena dengan penghematan dan efisiensi dalam pengunaannya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Betapa tidak, motor listrik yang menggunakan baterai hasil dari kerja sama Pertamina dan UNS dapat menempuh jarak tempuh sejauh 100 km hanya dengan menghabiskan biaya listrik sebesar Rp. 5000,- saja. Perhitungannya, 1 unit baterai memiliki kapasitas 3 kWh. Sedangkan saat ini tarif tertinggi listrik adalah Rp. 1.644,52 per kWh. Hasilnya tinggal dikalikan antara 3 kWh dengan Rp. 1.644,52. Totalnya adalah Rp. 4.933,56 atau dibulatkan menjadi Rp. 5.000,-

Harga sebesar Rp. 5.000 ini merupakan biaya pengecasan baterai.  Jika dibandingkan dengan bahan bakar minyak tentu jauh lebih mahal. BBM dengan jarak tempuh sejauh 100 km saja hampir menghabiskan Rp. 20.000 atau 3 liter BBM. Lebih mahal 4x lipat dengan baterai listrik. Itulah kelebihan jika menggunakan Lithium Ion Battery (LIB). Meskipun begitu, temuan ini belum bisa digunakan dalam waktu dekat, jadi masyarakat yang sudah mengetahuinya harap bersabar setidaknya menunggu 12 tahun lagi untuk bisa merasakan motor listrik dengan baterai sebagai penggeraknya.

Baterai motor listrik ini tentu ada kekurangannya. Yaitu terdapat pada proses pengecasan baterai yang cukup lama. Karena kendararaan bermotor sifatnya memang sibuk, yakni hampir sering dipakai terutama saat jam-jam kerja, jadi dikhawatirkan proses pengecasannya bisa menunda kegiatan pengendara. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kemenperin, Putu Juli Ardika saat ini sedang memilkirkan pengembangan konsep baterai swapping.

Baterai swapping adalah proses penukaran baterai listrik yang rencananya akan disediakan di minimarket. Tentunya pihak pemerintah perlu bekerja sama dengan minimarket tersebut. Jadi nanti pengguna motor listrik bisa menukar baterainya seperti halnya menukar gas atau galon. Walaupun begitu, dari segi harga tentu cukup mahal walaupun baterai listrik bisa digunakan dalam beberapa tahun kedepan karena produksinya masih terbatas di awal penyediaan. Dibalik itu, konsep baterai swapping  menjadi rencana yang meyakinkan untuk menutupi kekurangan baterai listrik dan mendukung pemerintah dalam mewujudkan energi terbarukan yang ramah lingkungan.