Pemanfaatan Energi Biodiesel di Indonesia Mulai Dipercepat dan Diperluas

Negara Indonesia yang mempunyai kekayaan alam yang sangat melimpah tentunya perlu dimanfaatkan lebih gencar lagi. Kekayaan tersebut terbagi dalam beberapa bidang salah satunya pada bidang pertanian. Pada bidang ini, terdapat beberapa tumbuhan atau tanaman yang bisa dikategorikan sebagai kekayaan alam. Diantaranya adalah kelapa sawit, kemiri, kacang tanah, kapok dan lain-lain.

Proses pemanfaatan hasil dari olahan bidang pertanian cukup berpengaruh bagi bahan produksi di Indonesia. Salah satu bahan yang bisa diproduksi dari olahan pertanian adalah bioenergi atau sering disebut sebagai biodiesel. Biodiesel adalah bahan bakar berupa nabati yang diperoleh dari minyak nabati hasil dari beberapa tumbuhan yang telah disebutkan diatas. Tumbuhan-tumbuhan itu dapat memproduksi bahan minyak nabati (BNN) dengan serangkaian proses seperti  transesterifikasi yang diperoleh metil ester (biodiesel), ektraksi, kemudian biodiesel dicampur dengan bahan bakar solar.

Proses campuran itu memperoleh hasil yang disebut dengan B10 & B20. Tujuan dari pencampuran ini agar bahan bakar B10 & B20 dapat digunakan sebagai solar karena mempunyai sifat-sifat fisis yang mendekati solar. Dengan begitu, bahan bakar solar yang merupakan bagian dari bahan bakar fosil dapat tergantikan dengan bahan bakar B10 atau B20 yang merupakan proses pembuatan dari bahan bakar nabati biodiesel.

Pemerintah yang dipimpin presiden Jokowi menggelar rapat dengan beberapa menteri untuk membahas mengenai percepatan dan perluasan penggunakan biodiesel. Penilaian Jokowi terhadap Indonesia pada perlibatan bahan bakar minyak, bahwa Indonesia saat ini masih dominan menggunakan energi fosil yang dijadikan sebagai energi utama. Sedangkan pemanfataan energi terbarukan masih kecil. Perlu diketahui bahwa energi fosil ini suatu saat nanti akan habis, karenanya kita tidak perlu bergantung kepada energi tersebut.

Selain itu, rencana pemerintah adalah ingin memperluas energi biodiesel pada seluruh mesin kendaraan. Serta menambah kandungan minyak nabatinya menjadi 30% atau B30 yang sebelumnya B20. Namun B30 ini masih dalam tahap uji coba pada Kereta Api. Jika ingin diperluas lagi, maka tantangan besar yang didapatkan yaitu pemerintah perlu menyesuaikan dengan standarisasi emisi euro4 gas buang kendaraan yang rencananya akan diterapkan pada bulan Oktober 2018 nanti.

Solusinya, B30 yang diterapkan pemerintah harus bisa memenuhi standar emisi euro4 karena standar tersebut terbilang sangat ketat daripada euro2 yang saat ini masih berlaku di Indonesia. Namun nampaknya bukan hal yang susah mengingat SDM dalam pengembangan B30 ini cukup mumpuni. Pemerintah lebih melihat kepada sisi kelebihan dari penggunaan biodiesel ini, yaitu akan memperhemat devisa negara, mengurangi impor BBM, mengurangi pemanasan global karena ramah lingkungan, meningkatkan industri dalam negeri, serta memperbesar sumber daya bahan bakar minyak nabati.