Erupsi Gunung Agung Mengeluarkan Senyawa Emisi Gas Beracun dan Berbahaya

Potensi pencemaran udara dan lingkungan di daerah letusan Gunung Agung sangat tinggi. Para warga sekitar baru akan aman setelah berada pada jarak sampai minimal 8-10 km. Jarak sejauh itu sudah dirasa cukup untuk membuat beberapa titik pengungsian mengingat status Gunung Agung tersebut masih siaga. Gunung Agung yang berlokasi di Kabupten Karangasem Provinsi Bali meletus pada hari Senin, 02 Juli 2018. Saat itu, warga sekitar yang berada di dekat lokasi mendengar suara letusan tersebut seperti suara dentuman petir yang keras. Setelah itu, Gunung Agung Kembali erupsi berturut-turut.

Semenjak Gunung Agung meletus pada tanggal 27 November 2017,  satelit dari Badan Antariksa Luar Angkasa (NASA) mendekteksi senyawa gas beracun di langit Bali. Senyawa tersebut tidak lain adalah Sulfur Dioksida (SO2) atau sering juga disebut Oksida Belerang. Hal itu di konfirmasi oleh Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) melaui akun Instagramnya @bnpb_indonesia mengungkapkan bahwa :

“Aura NASA telah memantau adanya konsentrasi sulfur dioksida yang tinggi sejak Senin, 27 November 2017, di langit Pulau Bali, sebagian Jawa hingga ke Surabaya dan Kepulauan Madura. Konsentrasi abu tertinggi ditemukan di sebelah Timur Pulau Bali. Setelah dilepaskan biasanya SO2 dapat berubah menjadi partikel aerosol sulfat kecil. Ini dapat mengubah kecerahan awan dan mempengaruhi pola presipitasi regional. SO2 atau Belerang dioksida diketahui merupakan senyawa beracun dengan bau menyengat. Dalam prosesnya, jika SO2 bertemu dengan senyawa lain di udara maka ia bisa membentuk hujan asam”. Tulis akun @bnpb_indonesia.

Bukan hal yang baru lagi jika asap yang keluar pada letusan sebuah Gunung pasti beracun dan berbahaya. Senyawa asap ini sebenarnya hampir mirip dengan senyawa emisi gas buang yang dihasilkan dari pembakaran mesin kendaraan baik itu roda dua, roda empat, kapal pesiar, pesawat terbang atau apapun yang menggunakan bahan bakar sebagai bahan utamanya. Senyawa gas paling tinggi yang dihasilkan oleh letusan Gunung Agung adalah Sulfur Dioksida (SO2) yang mana senyawa ini juga terdapat pada emisi gas buang kendaraan.

Terdapat beberapa komposisi emisi gas buang pada pembakaran kendaraan yang sudah diketahui oleh alat pengujian emisi, diantaranya: Emisi Senyawa Hidrokarbon (HC), Emisi Karbon Monoksida (CO), Emisi Senyawa NOx, Timah Hitam (Pb) dan Sulfur Dioksida (SO2). Pada senyawa Sulfur Dioksida (SO2) dapat menimbulkan efek iritasi di bagian saluran napas sehingga menimbulkan gejala batuk, sampai sesak nafas dan meningkatkan asma. Itu merupakan termasuk gejala ringan dari emisi gas buang kendaraan. Karena kadungan Sulfur Dioksida (SO2) pada kendaraan lebih rendah daripada yang dihasilkan oleh sebuah Gunung yang meletus, maka dampak negatif yang dihasilkan oleh Gunung meletus akan menimbulkan gejala lebih besar daripada dampak emisi gas buang kendaraan.

Oleh karena itu, walaupun pengungsi bisa dikatakan dalam radius aman dari lokasi letusan, tapi tetap memerlukan masker untuk menjauhi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka penting untuk memberikan edukasi kepada siapapun khususnya kepada warga yang berada di lokasi Gunung Agung itu meletus supaya lebih mengetahui tentang bahayanya sebuah emisi gas beracun yang dikeluarkan oleh Gunung Agung terhadap kesehatan dan lingkungan.

Tag: