Dinas LH Melakukan Monitoring Lingkungan Pada Tambang Emas Terbesar ke 2 di Indonesia

Monitoring lingkungan biasanya dilakukan pada suatu daerah yang berpotensi terkena pencemaran. Tingkat pencemaran ini bisa disebabkan oleh beragam masalah, masalah tersebut bisa diakibatkan oleh suatu lingkungan yang mengandung senyawa tertentu. Namun yang paling penting, itu tergantung kepada pihak pengelola di bawah PT yang langsung terjun untuk mengelola apa yang didapatkan dari lingkungan tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh PT Bumi Suksesindo (PT BSI) yang mengelola pertambangan emas di Kecamatan Pesanggahan, Banyuwangi. Diketahui bahwa tambang emas di daerah ini merupakan tambang emas terbesar kedua di Indonesia. Karena dikhawatirkan tambang emas ini berpotensi mencemarkan lingkungan di sekitarnya, dinas lingkungan hidup (DLH) Banyuwangi akan melakukan monitoring lingkungan di tambang emas tersebut.

Monitoring dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya serta seberapa jauh ambang batas pencemaran pada tambang terbesar kedua di Indonesia ini. Hasilnya cukup positif, pihak DLH menyebutkan bahwa tambang emas ini merupakan tambang terbaik di Indonesia karena sangat disiplin dalam pengelolaan lingkungan. Pada prosesnya, meski PT BSI mempunyai sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, namun masih menggandeng konsultan yang kompeten independen.

Selain itu, untuk melakukan monitoring lingkungan yang dilakukan PT BSI terhadap tambangnya, PT BSI sering melibatkan masyarakat sekitar sehingga timbul kepedulian dalam pengelolaan lingkungan agar terus terjaga kebersihannya. Hal ini patut dipertahankan karena tidak mudah untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih.

Menurut pihak DLH, setiap perusahaan yang dalam bidangnya terjun langsung untuk mengelola manfaat sumber daya yang terdapat pada alam, perlu dilakukan monitoring lingkungan oleh perusahaan masing-masing sebelum dilakukan monitoring oleh DLH, khususnya PT BSI. Karena monitoring lingkungan adalah kewajiban perusahaan sesuai dokumen yang telah disepakati yaitu dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Pihak DLH mewajibkan membuat laporan dokumen tersebut per semester. Setelah diamati oleh pihak DLH, PT BSI telah melakukan tugasnya dengan baik. Pihak PT BSI yang harusnya membuat laporan dokumen per semester atau per 6 bulan sekali, ini malah 3 bulan sekali. Tentu hal yang patut diapresiasi karena itu merupakan contoh dari tingginya kepedulian terhadap lingkungan.

Sementara itu, bagian pemerhati lingkungan PT BSI membuat rincian mengenai beberapa item monitoring lingkungan yang sesuai dengan dokumen AMDAL. Menurut dokumen, ada 9 item yang perlu di monitoring agar lingkungan pertambangan emas tetap aman dan sehat. 9 item tersebut diantaranya adalah monitoring udara, tanah, air sungai, air laut, monitoring Aquatic Biota Fresh, dan lainya.

Untuk mendapatkan hasil monitoring yang akurat, pihak perusahaan menggandeng Konsultan Independen, yaitu Lorax Indonesia. Sejak tahun 2009 lalu, tim konsultan ini memang konsen terhadap lingungan dan telah melakukan penelitian kualitas terumbu karang, air laut dan biota laut di sekitar Pulau Merah, atau sejak belum berdirinya PT BSI. Itu berarti tingkat profesionalitasnya sudah teruji dan keahliannya sudah mumpuni.

Penelitian terhadap monitoring lingkungan dilakukan pada tahun 2013 hingga sekarang. Hasilnya penelitian tersebut dikirim pada perusahaan yang mempunyai laboratorium terakreditasi, yaitu labolatorium Intertek Utama Service yang berlokasi di Jakarta. Setelah itu, baru hasilnya dilaporkan ke pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi.